Skip to main content

Tidak Ada Penderitaan

Posting ulang pikiran, Kamis, 4 Desember 2008  
 
Setelah saya berbincang dengan seorang sahabat, saya menyadari betapa besar perhatiannya kepada nasib manusia. Di dunia dimana nilai-nilai kemanusiaan telah terkikis mengerucut menjadi sederetan kepentingan pribadi, sahabatku ini mungkin salah satu yang masih memiliki hati seorang manusia semestinya. Saya katakan demikian karena menurut saya seorang manusia semestinya memang harus memperhatikan manusia lain dan umat manusia secara umum. Ia menggunakan pengetahuannya tentang penciptaan dirinya secara korelatif dengan eksistensi segala hal yang melingkupinya dan atau yang terkait dengan dirinya –  mahluk lain, alam semesta– terlebih saudara satu ras umat manusia. Semakin sadar eksistensinya terkait dengan yang lain semakin ia memiliki tanggung jawab eksistensial untuk memperhatikan apa yang terkait dengan eksistensinya tersebut apakah nasib ras manusia atau alam tempat ia berpijak.

Sahabat saya ini berkata kepada saya betapa ia menginginkan kedamaian ada di setiap penjuru bumi. Ia ingin melihat kebahagiaan tersirat di setiap wajah manusia. Ia ingin tidak ada cerita pilu, luka, penindasan, ketidakadilan. Ia ingin tidak ada perang, perseteruan, invansi, pembunuhan. Apa yang ia ungkapkan adalah respon kegelisahannya setelah saya bercerita bahwa di dunia ini hampir tidak ada ranah yang tidak terinjeksi kepentingan tertentu. Kepentingan dan agenda iblis.

Saya tercenung. Apa yang ia ungkapkan pada dasarnya terkait erat dengan berbagai dasar filosofis seperti definisi kebenaran, kemanusiaan, tujuan hidup, determinasi manusia dengan kesadaran yang ia miliki dan lain lain.

Saya memandang ujarannya adalah satu bentuk realitas ideal. Sangat ideal. Namun kemuliaan kata hatinya tidak harus menutup diri saya untuk merespon secara objektif.

Saya suka teringat dan cukup sering mendengar seorang agnostik melemparkan stigma buruk kepada Tuhan. Kerap ia mempersalahkan tragedi kemanusiaan dan segala keburukan yang terjadi menimpa dunia kepada Tuhan. “Jika Tuhan ada mengapa harus ada perang?”, demikian ujaran yang biasa terdengar. Jadi harusnya eksistensi Tuhan berbanding lurus dengan ineksistensi segala bentuk penderitaan. Benar, absah dan logiskah pernyataan seperti itu?

Fenomena Dengan Tindakan Sadar Manusia

Saya berpikir bahwa sebagian besar manusia adalah hanya pengikut keadaan yang ada dimana ia beradaptasi dengan keadaan itu tidak secara aktif membentuk keadaan dengan pemikiran ideal yang ia miliki (pragmatis tidak idealis). Disisi lain ada sekelompok manusia yang berfikir matang dengan agendanya. Ia berusaha membentuk realitas menjadi keadaan yang sesuai dan atau memudahkan tercapai agendanya (idealis untuk agenda apapun).

Contoh ketika isu terorisme mencuat dan menjadi isu sentral di ranah publik, sebagian besar manusia hanya membebek apa yang diungkapkan media. Mereka tidak mengkritisi bagaimana isu ini muncul, apa motivasi dan latar belakang kemunculannya.

Disisi lain disaat yang sama ada individual dan sekelompok orang dengan teliti mendesain bagaimana harusnya isu ini bergulir. Sebut saja mereka ini para analis, pusat studi, para pemimpin politik dan tokoh intelektual. Mereka melemparkan isu ini melalui media masa: konferensi pers, perilisan laporan ataupun jurnal dengan pretensi sebagai penelitian ilmiah yang tentunya mengabdi kepada nilai-nilai objektifitas. Hampir seperti ada satu nada dalam pengungkapannya. Semua berujung pada kesimpulan terorisme sama dengan Islam. Media dengan bias kepentingan hampir tidak memberi ruang bagi publik untuk sejenak mengkritisi penyamaan Islam sebagai teroris. Atau mengkritisi peristiwa-peristiwa teror yang terjadi apakah benar dilakukan dan diotaki muslim atau hanya operasi intel negara kapitalis untuk memberikan stigma dan justifikasi. Mengapa kelompok-kelompok teror di berbagai negar lain seperti di Irlandia, Jepang, Amerika, Amerika selatan tidak disebut teroris? Mengapa pengebomam sebuah gedung di Oklamoha oleh seorang penganut sekte kristen tertentu bisa diangkat oleh media dengan cukup proporsional dimana tidak ada penyamaan/ generalisasi semua sekte kristen sama dengan teror tapi proporsonalitas yang sama tidak terjadi kepada kelompok Islam?

Begitu juga dalam isu pemanasan global, mayoritas hanya bisa membebek. Penjuru dunia sepertinya memantulkan apa yang diungkapkan Al Gore, mantan rival Bush. Hampir tidak ada kritisi ditangan para pembebek isu ini; apakah motivasi kemunculannya? Tidak terelakkankah? Atau hanya sebentuk isu yang diproduksi untuk kepentingan tertentu? Mengapa dunia dipersuasi untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil pada saat yang sama Amerika berusaha menguasai sumber minyak di Irak misalnya. Dan pada saat yang sama mengapa fakta adanya kandungan minyak di bawah tanah Amerika ditutupi — apakah untuk menarik keuntungan saat persediaan minyak dunia menipis lalu dilempar ke pasar? Pada saat yang sama perusahaan agrikultur korporat mengambil untung dengan naiknya harga bahan makanan seperti gandum karena antara lain meningkatnya permintaan bahan makanan yang digunakan untuk membuat etanol, bahan bakar ramah lingkungan.

Relatif banyak isu yang bisa diperbandingakan dengan isu pemanasan global seperti kemiskinan, invansi militer (irak & afgan), kebodohan, kelaparan — yang saya sebutkan belakangan terkait dengan eksistensi dan hegemoni negara-negara kapitalis seperti Amerika dan Inggris. Penyerangaan Amerika dan sekutunya terhadap Irak adalah isu kemanusiaan yang telah membunuh dan menghancurkan peradaban manusia disana dengan dalih penyebaran demokrasi dan penyelamatan dari ektrimisme islamis yang mungkin menguasai daerah itu. Tuduhan Saddam memiliki situs pembuat senjata nuklir dengan foto satelit ternyata tidak terbukti yang nyatanya foto itu hanyalah manipulasi.

Namun nyatanya tertumpahlah darah dengan begitu murah karena dunia tidak diberi jeda untuk menekan Amerika. Ratusan ribu orang dibunuh atau terbunuh oleh monster-monster perang Amerika. Katakanlah bom curah yang membunuh tanpa ampun tanpa pilah-pilih. Bom fosfor. Hulu ledak dengan depleted uranium dan senjata lainnya yang berkategori pemusnah masal telah dikerahkan. Tidak lupa tragedi setelah perang seperti pemerkosaan, pelecehan, penyiksaan tawanan perang, pembunuhan para ilmuwan dan intelektual. Jelas semuanya terangkum menjadi satu kalimat: tragedi kemanusiaan yang luar biasa.

Lalu soal kemiskinan. Kita tidak bisa menutup mata bahwa kemiskinan adalah seperti fenomena yang superfisial alias man-made. Negara2 miskin telah menunaikan hukum kausalitas sebab akibat. Mereka telah berusaha bangkit dari kerterpurukan, kemiskinan dan kelatabelakangan tapi mengapa seolah tidak bisa merubah kondisi yang ada?

Tentu kita sudah cukup sering mendengar berita peperangan dan konflik terjadi di dunia ketiga. Seperti peperangan antar etnis di Rwanda dan negara afrika. Begitu juga masalah Timur tengah Fenomena ini terkait dengan kepentingan-kepentingan negara-negara barat. Di timur tengah antara lain terkait kepentingan geopolitis dan ekonomis seperti minyak. Begitu juga di Afrika. Katakanlah persaingan untuk mendapatkan tambang emas, berlian atau lagi-lagi minyak.

Begitu juga dengan kobodohan. Betapa warga di negara berkembangpun memiliki kemampuan untuk melakukan penemuan ilmiah tapi kenapa terkendala hak paten yang sama dengan hak memonopoli pengetahuan yang kerap menjadi biang kerok tragedi kemanusiaan . Sebagai contoh satu perusahaan mampu memproduksi obat tertentu dan ia telah mematenkan untuk kepentingan komersil. Disi lain ada juga pihak yang mampu memproduksi persis obat yang sama. Namun hak paten telah membuat perusahaan yang pertama memonopoli peredaran obat tersebut walaupun dalam kondisi krisis obat itu mungkin diperlukan seperti terjadinya wabah penyakit di negara miskin. Yang terjadi adalah tragedi pembiaran karena obat yang berpaten tidak terbeli sedangkan obat generik terlarang untuk beredar. Begitu juga hak paten bisa membatasi alih teknologi. Ini membatasi penelitian-penelitian di dunia ketiga. Yang terjadi justru adalah migrasi ilmuwan dari dunia ketiga ke negara maju — yang harusnya berkerja untuk kemajuan negaranya — yang ironisnya untuk mendukung hegemoni perusahaan para pemilik paten yang telah mereduksi penemuan ilmiah sebagai tumbal komersialisasi dengan memisahkan komitmen kemanusiaan dari penemuan itu.

Tidak hanya itu. Masalah keuangan yang berbasis ekonomi non-riil yang direpresentasikan secara simbolis dengan uang kertas yang tidak memiliki nilai saat andai kata tidak ada undang-undang yang mengesahkan, sangsi hukum dan polisi yang mengawasi dan memaksa pemberlakuannya sebagai alat-tukar yang sah. Kita terbiasa mendengar teori bahwa kemajuan satu negara terkait erat dengan pertumbuhan produksi nasionalnya. Kekuatan mata uang satu negara hampir berbanding lurus dengan itu. Tapi mengapa dengan serta merta perekonomian satu negara bisa serta merta mengalami krisis tanpa adanya preseden yang berarti  sebelumnya? Dengan kata lain dengan sekejap kondisi ’stabil’ berubah menjadi kondisi ‘labil’ atau krisis? Manipulasi mata uang adalah kuncinya. Cukup saya sebutkan orang seperti George Soros mampu melakukannya, membuat sebagian negara-negara Asia Tenggara mengalami badai krisis di tahun 1997.

Semua masalah tersebut bisa kita bandingkan dengan masalah pemanasan global. Dan kita bisa melihat dimana letaknya posisi isu pemanasan global sekaligus mempertanyakannya. Kita bisa melemparkan pendapat-pendapat apapun termasuk pendapat bahwa kemungkinan isu pemanasan global hanyalah satu itu isu yang digunakan sekelompok elit dunia yang paling bertanggung jawab atas masalah kemiskinan, kehancuran bumi, peperangan dan tragedi kemanusiaan lainnya untuk mengalihkan perhatian masyarakat dunia. Tentu mudah untuk membayar orang semisal Al Gore dan membentuk satu suara homogen dengan pretensi ‘konsensus’ di kalangan lembaga penelitian dan para ilmuwan yang telah ‘terbeli’. Benar atau tidak silahkan lihat faktanya dengan objektif. Beri analisis, suara dan outlet berita alternatif ruang yang sama sepertihalnya kita memberikan ruang yang sama kepada analisis, suara dan outlet berita arus utama.

Pemaparan-pemaparan sekilas tersebut saya kira menyiratkan bahwa memang ada sekelompok manusia yang mengabdi kepada kekuasaan untuk menginjak manusia lain agar kepentingan politik ekonominya tercapai. Agar hasratnya akan harta, penghormatan terpenuhi. Kita tidak bisa bersikap naif dengan menutup mata akan fakta ini bahwa saat ini yang dominan di dunia adalah negara-negara kapitalis yang memiliki agenda kebijakan luar negeri untuk menjajah negara lain karena penjajahan adalah metode penyebaran ideologi dan pengokohan hegemoni mereka. Adalah sangat hipokrit bila kita dengan naif memandang manuver2 negara barat sebagai maksud ‘baik’ semisal dalam masalah pemberian bantuan tanpa menganalisis kemungkinan agenda tersembunyi baik secara langsung atau tidak, jangka pendek atau jangka panjang, jelas atau laten.

Justru hipokritas adalah senjata kapitalis untuk melemahkan musuhnya. Kita sudah bosan ketika lembaga pemerintah atau non-pemerintah dari negara barat kapitalis memberi kuliah soal toleransi, pluralisme, keadilan, keberimbangan, keterbukaan, sikap moderat. Kemudian kuliah2 ini diteruskan melalui agen2 mereka di dunia ketiga yang mereka bantu secara finansial dan mereka beri tempat di media masa arus utama. Pada saat yang sama justru terlihat betapa tuan mereka begitu tidak toleran malah ekstrim dalam memaksakan kehendaknya. Ambil contoh kasus invansi irak yang antara lain salah satunya dengan motif penyebaran demokrasi dan kebebasan — sejenis ide setan berwajah malaikat.

Kesimpulan

Demikian kita melihat bahwa penderitaan, penjajahan, kepiluan dan tragedi tidak terjadi by coincidence (kebetulan) tapi by design (dengan rencana sadar). Manusia memiliki kebebasan untuk berbuat dengan sadar dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atau apa yang ia perbuat.  Terlepas dari bahwasannya sekumpulan nila-nilai moral dan legal telah dimiliki manusia untuk membatasi ‘kebebasannya’ namun tetap dengan sarana kekuasaan (militer, uang dll) semuanya bisa dilangkahi.

Dimana relevansi pembalasan atas apa yang diperbuat manusia jika manusia sendiri hanya mengetahui kebaikan saja atau keburukan saja? Adilkah jika seorang seperti Hitler, Bush, Polpot, Saddam tidak mendapat konsekuensi dari kejatahannya padahal disisi lain manusia lain telah dikorbankan oleh mereka? Adilkah jika tidak ada perbedaan antara yang berbuat baik dan yang berbuat jahat dan buruk? Jawaban atas ujaran seorang agnostik yang biasa mempersalahkan penderitaan di dunia kepada Tuhan adalah bahwa ujarannya itu bodoh karena justru tangan manusialah sumber penderitaan itu dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia lakukan — yang muncul dari kesadaran dan potensi berfikirnya.

Akhirnya kata hati sahabat saya itu saya kira memang sangat mulia namun sayang kondisi yang ia inginkan sulit untuk terwujud (bukan mustahil) saat para manusia yang mengabdi kepada Iblis masih mendominasi dunia.

Comments